Tersangka bom subway Manhattan, Amerika Serikat mengatakan dirinya terinspirasi teror Natal di Berlin, Eropa tahun lalu. Bahkan ia memilih aksi terornya dari poster Natal yang ditemukannya di dinding subway atau kereta bawah tanah.

Tersangka bernama Akayed Ullah menjelaskan kepada penyidik polisi bahwa aksi terornya yang melukai 3 orang tersebut sebagai balas dendam terhadap serangan udara Amerika Serikat pada ISIS di Timur Tengah.

Tersangka yang berusia 27 tahun dan berasal dari Bangladesh meledakkan bom pipa buatan yang diikatkan ke tubuhnya di subway Manhattan, New York pada jam sibuk pagi hari pada hari Senin, 11 Desember 2017.




Beruntung bom gagal meledak sepenuhnya. Ullah menjadi satu-satunya yang terluka parah dalam aksi teror itu. Ledakan tersebut menyebaban sekujur badan dan lengannya menderita luka bakar. Dia dikirim ke rumah sakit dengan kondisi serius.

Tiga korban lainnya menderita luka di telinga, kepala dan keluhan ringan lainnya, dan tidak ada kerusakan signifikan pada struktur kereta bawah tanah.

“Untung bagi kita, bom tersebut hanya sebagian yang diledakkan. Tidak sepenuhnya memiliki efek seperti yang ia rencanakan,” kata Gubernur New York, Andrew Cuomo seperti dikutip dari Channel News Asia.

Cuomo mengatakan bahwa Ullah bukan bagian dari “jaringan yang canggih,” namun tampaknya “dipengaruhi” oleh ISIS atau kelompok ekstremis lainnya.

Serangan tersebut terjadi saat musim liburan Natal-Tahun Baru. New York dibayangi ancaman teror yang mungkin dilakukan aktor tunggal yang diilhami oleh ISIS atau al-Qaida.

Menjelang Natal tahun lalu,pengungsi Tunisia yang terinspirasi ISIS mengendarai sebuah truk besar ke kerumunan di sebuah pasar Natal di Berlin lalu meledakkan bom hingga menewaskan 12 orang. Pendukung ISIS telah melakukan ancaman online dan mendesak simpatisannya di seluruh dunia untuk melakukan serangan selama musim liburan.

sumber : dunia.tempo.co

Translate »