Resolusi Tahun Baru adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat, tetapi juga bisa ditemukan di seluruh dunia. Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada Hari Tahun Baru.

Awal mula resolusi tahun baru yaitu tradisi penduduk Babilonia kuno berjanji kepada para dewa yang mereka sembah setiap awal tahun, bahwa mereka akan mengembalikan semua benda-benda yang telah mereka pinjam dan membayar utang mereka. Bangsa Romawi memulai awal tahun dengan berjanji kepada dewa Janus, yang namanya diabadikan menjadi nama bulan Januari. Pada Abad Pertengahan, para kesatria mengucapkan “sumpah merak” pada akhir musim Natal setiap tahunnya untuk menegaskan kembali komitmen mereka sebagai kesatria.

Ada persamaan mengenai tradisi ini dalam pandangan agama. Saat Tahun Baru Yudaisme yang dikenal dengan Rosh Hashanah, umat Yahudi merenungkan kesalahan yang telah mereka lakukan sepanjang tahun dan meminta pengampunan. Umat Katolik juga melakukan hal serupa pada masa puasa Pra-Paskah, meskipun motifnya lebih ke pengorbanan daripada tanggung jawab. Tradisi resolusi Tahun Baru ini sendiri sebenarnya berawal dari praktik puasa pra-Paskah yang dilakukan oleh umat Katolik.




Sebuah studi pada tahun 2007 yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol dengan melibatkan 3.000 responden menunjukkan bahwa 88% dari mereka yang memiliki resolusi Tahun Baru gagal mewujudkannya, meskipun 52% dari responden yakin pada awalnya bahwa mereka akan berhasil mewujudkannya. 22% pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat mereka menenetapkan target (misalnya bertekad menurunkan berat badan satu pon dalam seminggu, bukannya hanya “menurunkan berat badan” saja), sedangkan 10% wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Frank Ra (penulis buku resolusi Tahun Baru “A Course in Happiness“) menyatakan bahwa “Resolusi akan lebih berkelanjutan bila kita berbagi, baik dalam hal dengan siapa Anda berbagi manfaat dari resolusi Anda, dan dengan siapa Anda berbagi jalan untuk menjaga resolusi Anda. Rekan-dukungan yang membuat perbedaan dalam tingkat keberhasilan resolusi tahun baru.”

Cara membuat resolusi tahun baru yang tepat:

  1. Renungkan kekurangan di tahun ini, agar Anda dapat dengan mudah merencanakan resolusi untuk tahun depan. Misalnya, belum melakukan pola hidup sehat, belum mencapai jabatan yang diinginkan di kantor atau memiliki banyak waktu bersama si kecil. Maka, jadikanlah hal yang belum Anda capai tersebut sebagai resolusi tahun depan
  2. Setiap tujuan memiliki rencana untuk bisa meraihnya. Begitu juga dengan resolusi yang telah Anda putuskan, susunlah rencana yang matang dan bawa dalam doa ya. Misalnya, untuk bisa hidup sehat, buang semua bahan makanan tidak sehat yang ada di rumah dan menggantinya dengan banyak buah, sayur dan bahan makanan lainnya yang menyehatkan. Ini langkah pertama yang bagus lho.
  3. Agar Anda semakin fokus dalam meraih tujuan, janjikan sebuah reward untuk diri Anda sendiri. Misalnya, ketika berhasil meraih jabatan yang diinginkan, berjanjilah pada diri sendiri untuk meluangkan waktu bersama anak-anak sebagai hadiahnya. Hmm, ini reward yang paling Anda tunggu, bukan?

Apa resolusi Anda untuk tahun 2018? Silakan comment dibawah ini ya…

sumber : berbagai sumber

Translate »